The Straits Journal

Demokrasi Indonesia – Riwayatmu Kini

Ditulis dalam esei oleh Ricky Hariady pada Februari 5, 2009

Ada 3 jenis pemerintahan didunia menurut pemikiran Machiavelli : Monarki, Aristokrasi, dan Demokrasi. Masing-masing jenis pemerintahan tersebut lalu dapat pula dibagi lagi kedalam bentuk antagonisnya : Tirani, Oligarki, dan Anarki. Dibukunya Discourses, Machiavelli telah menerangkan dengan sangat jelas tentang bagaimana ketiga jenis pemerintahan ini dapat terbentuk dan bagaimana suatu jenis pemerintahan dapat berubah bentuk menjadi jenis pemerintahan lainnya. Dari sebuah kerajaan Monarki berubah menjadi Tirani saat sang raja mulai kehilangan kemampuannya, lalu tergantikan menjadi Aristokrasi oleh kaum liberator, yang kemudian segera menjadi Oligarki saat segelintir orang memiliki kekuasaan yang tak seharusnya. Tahap akhir adalah munculnya Demokrasi, tetapi dikarenakan kebebasannya kemudian dapat dengan mudah berubah menjadi Anarki. Dan mengenai poin terakhir inilah kali ini saya hendak berbicara.

Lalu mungkin ada pula yang bertanya-tanya, mengapa pula saya menjadi ingin membicarakan ini? Maka jawabnya adalah karena sebuah tragedi yang, sungguh, tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan terjadi. Saya baru mendengar kabar ini kemarin sore(4/1/09) saat menonton berita di TV. Sungguh mengejutkan : Ketua DPRD Sumut tewas setelah dikeroyok demonstran. Rasa kesal seketika memuncak dalam diri. Pilu sekaligus risau dengan kondisi bangsa ini yang semakin lama semakin dikuasai oleh kekerasan. Yang lebih membuat hati ini sakit adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari para demonstran adalah mahasiswa, yang padanya masa depan bangsa ini akan bergantung. Apakah dengan alasan demi membela kepentingan rakyat dapat memberi mereka legitimasi untuk menghabisi nyawa seseorang? Sungguh pemikiran yang sangat dangkal menurut saya. Bahkan cenderung egois. Bukankah bangsa ini dibangun oleh para founding father atas sebuah dasar hukum dan ideologi bernama Pancasila yang didalamnya terdapat semangat kemanusiaan? Lalu mengapa pula kini mereka berani bertindak kasar dan brutal dengan mengatas-namakan rakyat?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin bisa banyak sekali, tapi yang paling relevan untuk kondisi saat ini bisa jadi saya ada 2 hal. Pertama adalah rakyatnya yang benar-benar telah meninggalkan Pancasila, atau yang kedua adalah karena munculnya beberapa oknum yang mencoba mencari keuntungan dengan mengatasnamakan rakyat. Untuk jawaban yang pertama, dapat kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apa masih ada kepingan-kepingan Pancasila yang tersisa dalam jiwa ini? Saya pikir kita semua harus jujur dalam menilainya bila ingin bangsa ini tetap bertahan menghadapi tantangan-tantangan dimasa yang akan datang. Karena kalau tidak, bisa jadi nasib kita kedepannya akan sama dengan yang dialami oleh Bosnia. Dicengkram oleh kebencian dan permusuhan yang pada akhirnya akan menuju pada kehancuran. Saya pikir seharusnya kita dapat belajar banyak dari pengalaman beberapa tahun yang lalu saat terjadi konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Tapi entah mengapa kita selalu saja lupa.

Menanggapi jawaban kedua, kita perlu kembali pada pembicaraan-pembicaraan sebelumnya. Seperti yang dikatakan Machiavelli, sebuah sistem demokrasi dikarenakan kebebasannya dapat dengan mudah berubah menjadi anarki. Kondisi inilah yang  sepertinya cocok untuk melukiskan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Demokrasi yang kebablasan, sehingga memberi kesempatan kepada beberapa orangnya untuk mengambil keuntungan pribadi dengan mengatas-namakan kepentingan rakyat. Lalu dengan kekuatannya -dapat berupa uang, kekuasaan, kharisma- mampu mempengaruhi sekumpulan orang untuk bertindak anarkis demi mencapai tujuan pribadinya. Hal ini tentu tak lepas pula dari tingkat pendidikan orang-orang tersebut, karena apabila mereka sudah cukup pintar untuk memilah mana yang hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu dan mana yang benar-benar berpihak kepada rakyat, tentu mereka tidak akan begitu mudahnya terprovokasi. Sayang sekali hal ini turut pula membuktikan membuktikan bahwa sistem pendidikan yang ada saat ini masih kacau karena ternyata yang paling gampang terprovokasi justru adalah dari golongan mahasiswa. Berlagak bagai seorang pintar dan berpendidikan, tapi justru bertindak layaknya sekumpulan udik kasar yang tak pernah mengenyam pendidikan. Sungguh ironi, mengingat merekalah yang diharapkan mampu memimpin bangsa ini kedepannya.

Ternyata setelah 63 tahun merdeka bangsa ini masih belum cukup dewasa untuk mendapati jati dirinya sendiri yang yang telah digariskan oleh para founding father lebih dari setengah abad yang lalu.

Ditandai sebagai:, , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. moehfi said, on Februari 5, 2009 at 3:43 pm

    Guru ku dulu pernah bilang kalau perjalanan Indonesia baru seperempat dari apa yang pernah dialami Amerika Serikat. Jadi, hal kayak di atas masih akan dialami Indonesia hingga 150 tahun? Itu pertanyaan terakhirku sama Guru ku itu.

    150 tahun? bukan sebentar itu..

    Faktor-faktor yang menyebabkan hal itu memang banyak. Contoh, Alasan utama pemekaran propinsi yg didemokan kemaren adalah karena pembangunan yang tidak merata di daerah mereka ketimbang di daerah2 kota. Tapi tentu saja tidak hanya faktor itu. Ada faktor lain (dan tidak akan aku sebutkan).

    Terkadang kita hanya tidak bijak menghadapi perbedaan, itu saja. Superioritas masih menjadi mainstream dalam clash yang berbau SARA di Indonesia.

  2. kira said, on Februari 20, 2009 at 9:06 am

    demokrasi atw democrazy?

  3. doumy said, on Maret 4, 2009 at 3:01 pm

    Rakyat sebenarnya telah meninggalkan Syariah sebagai sistem yang paripurna bukannya Pancasila, apalgi demokrasi.
    Demokrasi memang kebablasan kerusakannya.

  4. Sinta Maulanisa said, on Maret 21, 2009 at 10:08 am

    buset serius amet yak?? XDD

  5. soezack said, on Mei 27, 2009 at 3:32 pm

    Demokrasi yang keblabasan oleh pihak2 yang tidak bertanggung jawab bisa berakibat demikian..


Tinggalkan Balasan