The Straits Journal

Demokrasi Indonesia – Riwayatmu Kini

Posted in esei by Ricky Hariady on Februari 5, 2009

Ada 3 jenis pemerintahan didunia menurut pemikiran Machiavelli : Monarki, Aristokrasi, dan Demokrasi. Masing-masing jenis pemerintahan tersebut lalu dapat pula dibagi lagi kedalam bentuk antagonisnya : Tirani, Oligarki, dan Anarki. Dibukunya Discourses, Machiavelli telah menerangkan dengan sangat jelas tentang bagaimana ketiga jenis pemerintahan ini dapat terbentuk dan bagaimana suatu jenis pemerintahan dapat berubah bentuk menjadi jenis pemerintahan lainnya. Dari sebuah kerajaan Monarki berubah menjadi Tirani saat sang raja mulai kehilangan kemampuannya, lalu tergantikan menjadi Aristokrasi oleh kaum liberator, yang kemudian segera menjadi Oligarki saat segelintir orang memiliki kekuasaan yang tak seharusnya. Tahap akhir adalah munculnya Demokrasi, tetapi dikarenakan kebebasannya kemudian dapat dengan mudah berubah menjadi Anarki. Dan mengenai poin terakhir inilah kali ini saya hendak berbicara.

Lalu mungkin ada pula yang bertanya-tanya, mengapa pula saya menjadi ingin membicarakan ini? Maka jawabnya adalah karena sebuah tragedi yang, sungguh, tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan terjadi. Saya baru mendengar kabar ini kemarin sore(4/1/09) saat menonton berita di TV. Sungguh mengejutkan : Ketua DPRD Sumut tewas setelah dikeroyok demonstran. Rasa kesal seketika memuncak dalam diri. Pilu sekaligus risau dengan kondisi bangsa ini yang semakin lama semakin dikuasai oleh kekerasan. Yang lebih membuat hati ini sakit adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari para demonstran adalah mahasiswa, yang padanya masa depan bangsa ini akan bergantung. Apakah dengan alasan demi membela kepentingan rakyat dapat memberi mereka legitimasi untuk menghabisi nyawa seseorang? Sungguh pemikiran yang sangat dangkal menurut saya. Bahkan cenderung egois. Bukankah bangsa ini dibangun oleh para founding father atas sebuah dasar hukum dan ideologi bernama Pancasila yang didalamnya terdapat semangat kemanusiaan? Lalu mengapa pula kini mereka berani bertindak kasar dan brutal dengan mengatas-namakan rakyat?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin bisa banyak sekali, tapi yang paling relevan untuk kondisi saat ini bisa jadi saya ada 2 hal. Pertama adalah rakyatnya yang benar-benar telah meninggalkan Pancasila, atau yang kedua adalah karena munculnya beberapa oknum yang mencoba mencari keuntungan dengan mengatasnamakan rakyat. Untuk jawaban yang pertama, dapat kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apa masih ada kepingan-kepingan Pancasila yang tersisa dalam jiwa ini? Saya pikir kita semua harus jujur dalam menilainya bila ingin bangsa ini tetap bertahan menghadapi tantangan-tantangan dimasa yang akan datang. Karena kalau tidak, bisa jadi nasib kita kedepannya akan sama dengan yang dialami oleh Bosnia. Dicengkram oleh kebencian dan permusuhan yang pada akhirnya akan menuju pada kehancuran. Saya pikir seharusnya kita dapat belajar banyak dari pengalaman beberapa tahun yang lalu saat terjadi konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Tapi entah mengapa kita selalu saja lupa.

Menanggapi jawaban kedua, kita perlu kembali pada pembicaraan-pembicaraan sebelumnya. Seperti yang dikatakan Machiavelli, sebuah sistem demokrasi dikarenakan kebebasannya dapat dengan mudah berubah menjadi anarki. Kondisi inilah yang  sepertinya cocok untuk melukiskan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Demokrasi yang kebablasan, sehingga memberi kesempatan kepada beberapa orangnya untuk mengambil keuntungan pribadi dengan mengatas-namakan kepentingan rakyat. Lalu dengan kekuatannya -dapat berupa uang, kekuasaan, kharisma- mampu mempengaruhi sekumpulan orang untuk bertindak anarkis demi mencapai tujuan pribadinya. Hal ini tentu tak lepas pula dari tingkat pendidikan orang-orang tersebut, karena apabila mereka sudah cukup pintar untuk memilah mana yang hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu dan mana yang benar-benar berpihak kepada rakyat, tentu mereka tidak akan begitu mudahnya terprovokasi. Sayang sekali hal ini turut pula membuktikan membuktikan bahwa sistem pendidikan yang ada saat ini masih kacau karena ternyata yang paling gampang terprovokasi justru adalah dari golongan mahasiswa. Berlagak bagai seorang pintar dan berpendidikan, tapi justru bertindak layaknya sekumpulan udik kasar yang tak pernah mengenyam pendidikan. Sungguh ironi, mengingat merekalah yang diharapkan mampu memimpin bangsa ini kedepannya.

Ternyata setelah 63 tahun merdeka bangsa ini masih belum cukup dewasa untuk mendapati jati dirinya sendiri yang yang telah digariskan oleh para founding father lebih dari setengah abad yang lalu.

Iklan

PM Somchai Akhirnya Lengser

Posted in berita by Ricky Hariady on Desember 3, 2008

Mahkamah Konstitusi Thailand akhirnya membubarkan pemerintahan dibawah pimpinan Perdana Menteri Somchai Wongsawat pada selasa malam (2 Desember). Selain itu, mahkamah juga menjatuhi sanksi kepada tiga partai yang membentuk koalisi mayoritas di parlemen karena terbukti melakukan politik uang saat pemilu Desember tahun lalu. Somchai, yang berasal dari Partai Kekuatan Rakyat atau PPP (People Power Party) dan baru menjabat sejak 17 September lalu dipaksa melepaskan jabatannya setelah ribuan demonstran turun ke jalan dan menguasai bandara internasional Suvarnabhumi sejak minggu (25/11) lalu, memaksa otoritas bandara untuk menutup bandara tersebut serta membatalkan seluruh penerbangan domestik maupun internasional. Akibatnya sekitar 3000 turis mancanegara yang hendak pulang menjadi terlantar dan baru dapat dievakuasi keesokan paginya. Hal ini memperlihatkan krisis politik yang terjadi di Thailand menjadi semakin tak terkendali dan sepertinya masih belum akan selesai dalam waktu dekat ini.

somchai_wongsawat_15112008

Para demonstran, yang berjumlah sekitar 8.000 ribu orang, dan menamakan diri Aliansi Rakyat untuk Demokrasi atau PAD (People Alliance for Democracy) berkumpul di bandara tersebut menuntut Perdana Menteri Somchai Wongsawat -yang baru akan kembali dari KTT APEC di Peru- untuk mundur dari jabatannya. Akan tetapi dalam siaran TV pemerintah Somchai kemudian menolak untuk mundur dan menyatakan bahwa pemerintahnya saat ini terpilih secara sah. Pernyataan ini dikeluarkan setelah Panglima Militer Jenderal Anupong Pauchinda -yang telah lama diam- meminta para demonstran untuk meninggalkan bandara dan menyarankan PM Somchai untuk membubarkan parlemen serta menggelar pemilu dini.

Mendengar keputusan mahkaham tersebut para demonstran langsung bersorak-sorai dan menyatakan akan mengakhiri blokade di bandara pada rabu (3/12). Meskipun begitu otoritas bandara masih belum dapat membuka kembali bandara setidaknya hingga 15 Desember mendatang untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi selama pendudukan demonstran. Tidak diketahui apakah penghentian blokade ini akan diikuti dengan penyerahan kembali Kantor Pemerintahan resmi Thailand yang telah dikuasai demonstran sejak agustus lalu.

Untuk sementara, pemerintahan akan dipegang oleh Wakil Perdana Menteri Chaowarat Chandeerakul, sambil menunggu parlemen untuk memilih PM baru setidaknya 30 hari sejak selasa (2/12) ini. Akan tetapi pengangkatan PM baru oleh parlemen ini tidak menjamin akan mengakhiri krisis politik di Thailand, karena apabila yang terpilih nanti tetap berasal dari koalisi PPP maka dapat dipastikan PAD akan kembali turun ke jalan dan melakukan protes.

 

Ledakan di Don Muang

Sementara dari Don Muang yang merupakan lokasi bandara lama dilaporkan telah terjadi ledakan pada selasa tadi malam (2/12), melukai 13 demonstran lainnya. Ini adalah yang ketiga kalinya sejak bandara ini diblokade oleh para demonstran PAD sejak kamis (27/12) sehingga menutup bangkok sepenuhnya dari lalu-lintas udara. Total enam orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam rangkaian ledakan tersebut. Tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam ledakan ini.

Seluruh rangkaian kejadian ini telah membuat pariwisata Thailand menjadi semakin terpuruk, setelah sebelumnya juga merasakan imbas dari krisis finansial global. Industri pariwisata di Thailand memberikan 6 persen dari total penghasilan negara, dan mempekerjakan sekitar 1 juta orang. Pada tahun 2007 saja terdapat 14,8 juta turis yang datang ke negeri tersebut. Tetapi akibat krisis ini diperkirakan akan mengalami penurunan, serta memangkas penghasilan dari sektor ini hingga setengah dari target 240 miliar Baht atau setara US $6.8 miliar untuk tahun ini.

Selain itu pertemuan puncak regional ASEAN yang rencananya akan dilaksanakan pertengahan Desember ini ditunda hingga Maret tahun depan. Tanggal pastinya baru akan ditentukan setelah berkonsultasi dengan negara-negara ASEAN lainnya. Sebagai Ketua ASEAN saat ini, maka Thailand harus bertanggung jawab menjadi tuan rumah pada pertemuan puncak tahunan organisasi negara-negara Asia Tenggara tersebut.

 

Warga Indonesia dipulangkan

Pemerintah Indonesia telah memulangkan sebanyak 165 orang WNI yang berada di Thailand pada rabu pagi (3/12) menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dari bandara militer U Ta Pao, 140 km dari Bangkok. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah adanya korban dari pihak WNI dalam krisis politik yang semakin memanas di Thailand beberapa hari terakhir. Sebelumnya mereka yang berada di Bangkok terjebak karena pendudukan bandara internasional utama Survanabhumi dan bandara Don Muang oleh para demonstran.

Landscape

Posted in esei by Ricky Hariady on November 23, 2008

Diri masih juga asyik dengan dunianya sendiri, melayang dengan sayap-sayap indah ini bersama bidadari-bidadari cantik yang kian menggoda dengan kerlipan matanya. Di bawah sana padang rumput luas terhampar bagaikan permadani hijau, menjadi lebih indah dengan diselingi pepohonan yang tumbuh satu-satu di atasnya. Sementara di cakrawala, mentari berlindung dibalik awan yang ikut memudar merah, merona, terkena cahaya matari, seperti juga pipi para bidadari. Ah,, serasa tak ingin rasanya bila nanti harus juga meninggalkan mereka, dan juga dunianya.

Dan mereka, bidadari-bidadari itu, terus juga menari dengan lincahnya di udara, begitu genitnya memainkan tubuh dan mata, membuat diri ini seakan-akan melambung terlepas dari tubuhnya. Tak kuasa menahan, akhirnya kubawa juga diri untuk ikut menari bersama mereka. Di atas kami menari, bernyanyi, berputar, dan tertawa, sambil berpegangan tangan, erat, seakan akan tak ada yang boleh memisahkan. Kata orang dengan menari dan bernyayi dapat menghilangkan segala resah dan gundah dihati. Namun nyatanya, hati ini malah jadi semakin resah, takut, bila nanti kami jadi harus berpisah untuk merasakan sakit yang begitu dalam di hati. Jadi kami putuskan juga untuk terus menari dan bernyanyi. Dan tubuhpun terus terbang semakin tinggi.

signature

Sebuah Surat dari Masa Lalu

Posted in esei by Ricky Hariady on November 22, 2008

Kemarin malam dengan sengaja saya bongkar-bongkar arsip lama di lemari. Dari sekian banyak berkas, ada satu yang cukup menarik perhatian. Sebuah CD yang sudah sekian waktu tak tersentuh karena terselip diantara tumpukan kertas yang berserakan. Didalamnya ada sebuah file yang berisi tulisan – kalau saja dapat dikatakan sebagai sebuah tulisan – yang saya kerjakan beberapa tahun lalu, waktu itu masih duduk di bangku SMA. Judulnya pendek saja – “Perhitungan, Pemuda, dan Matahari” – sebuah cerita pendek, setidaknya begitulah saya memandangnya waktu itu. Harap maklum kalau isinya sedikit dramatis, karena waktu menulisnya saya masih berada pada masa-masa yang penuh pergolakan dan idealisme. Harap maklum juga dengan judulnya, karena waktu itu saya lagi terinspirasi dengan yang namanya matahari.

Sebenarnya tulisan ini saya kerjakan dalam beberapa versi. Alasannya adalah karena saya sendiri tidak puas dengan apa yang telah saya kerjakan. Kalau tidak salah ada empat versi, dan salah satunya dijadikan tema dalam sebuah film pendek yang saya dan teman-teman buat sendiri. Ya, walaupun filmnya sendiri tidak pernah selesai, saya melihat setidaknya ada yang memberi apresiasi terhadap tulisan ini. Penghargaan saya kepada teman-teman yang telah banyak berkorban dalam film ini.

 

Perhitungan, Pemuda, dan Matahari

Pagi hari, matahari baru saja tiba untuk menjumpai kami, ketika pemuda itu keluar dari kamarnya sambil membawa sebilah pisau di tangannya. Ia terus saja berjalan melewati lorong-lorong gang yang sempit ketika banyak orang yang menjadi bingung olehnya. Tak ada yang berani menghalanginya. Begitupun aku. Aku hanya dapat mengikutinya dari belakang, dengan kebingungan yang memenuhi seluruh rongga di otakdan jiwaku, hingga kusadar kami telah sampai di depan sebuah lapangan luas dimana matahari sering barmain dan tertawa bersama kami, sahabatnya, kekasihnya. Akupun berkata, “Apa yang ingin kau lakukan disini? Apa ada yang telah menyakitimu sehingga kau bertindak seperti ini?” Pemuda itu hanya diam, walau tak lama kemudian tanpa menoleh kebelakang ia menjawab dengan amarah yang begitu mendalam, “Aku ingin membuat perhitungan dengan matahari.”

Masuk ke lapangan, dengan suaranya yang lantang pemuda itu memanggil matahari yang sedang bermain dan tertawa bersama sahabat dan kekasihnya. Kami semua terdiam, begitu pun matahari.

Hey, Matahari, ayo kita kelahi! Tantang aku kalau berani. Aku muak dengan cahaya mu yang terang dan terus menghunjam kulitku hingga jadi hitam legam. Ayo Matahari. Biarkan aku hidup tanpa mu atau kau yang hidup tanpa ku. Matahari, ayo, lawan aku!

Matahari hanya diam saja. Tak ada satu suara pun yang keluar dari tenggorokannya, juga hatinya. Bibirnya seakan tak mampu bergerak. Lidahnya kaku. Hatinya pun membatu. Ia hanya diam saja. Bisu. Hatinya pilu

Berapa waktu suasana hening saja. Tanpa ada suara yang keluar, dari tenggorokan atau hati, dari pemuda atau matahari, keduanya. Walau begitu, sungguh dalam hati gejolak semakin membara-bergelora, tak ada yang tahu. Kecuali mungkin aku.

Tak tahan dengan situasi yang semakin menyakitkan, pemuda itu pergi meninggalkan matahari dengan seribu pertanyaan yang masih tersisa, tanpa ada jawaban yang pasti baginya, juga bagi pemuda. Ditambah lagi pemuda itu tak pernah sekalipun menoleh kebelakang, sangat menyakitkan mungkin baginya. Sedang matahari hanya dapat melihat dari belakang langkah pemuda itu pergi, meninggalkan matahari, menjauhi cahayanya yang menerangi, meludahi kasih sayangnya yang suci, hatinya pilu.

Hari itu matahari pulang lebih awal. Senja pun cepat datang, dan cepat pula menghilang. Hari pun menjadi malam. Dari balik cakrawala, dirumahnya kulihat matahari sedang duduk termenung-bingung, diam seribu bahasa. Tak ada satupun yang berani menghampirinya, takut matahari semakin sedih dan tak mau lagi keluar dari kamarnya esok hari menjumpai sahabat-sahabat dan kekasihnya di sana. Malam ini pun sunyi, tidak seperti malam lainnya, yang selalu diiringi canda-tawa dan gurauan matahari, ataupun tangis bahagianya. Matahari sepertinya masih belum mengerti, masih belum memahami, apa yang sedang terjadi antara dia, dunia, dan pemuda.

Esoknya pemuda itu ditemukan mati di dalam kamarnya yang gelap tanpa ada satu cahayapun yang menerangi. Sebuah tusukan di dada. Sebilah pisau ditangannya. Oleh teman-temannya ditemukan sepucuk surat di atas meja kerjanya.

Buat manisku yang tinggal sendirian di pulau pengharapan dalam hati dan perasaan – ku.

Ada sesuatu yang lain kurasa saat aku duduk termangu di depan jendela melihat mentari di ufuk barat mulai malu-malu melepas aura kehangatannya. Dilangit kulihat burung gereja berkicau tiada hentinya sambil mengepakkan sayapnya dan terbang lincah entah kemana bersama burung gereja lainnya, termasuk mungkin kekasihnya. Semakin lama ku terpaku, mentari makin malu walau akhirnya bibir tipisnya mengecup indahnya dunia dengan sisa-sisa kehangatan yang masih dimilikinya – kurasa. Lalu mentari itu hilang dibalik cakrawala, tak lagi memancarkan kehangatannya bagi dunia dan indahnya. Kuharap esok ia datang kembali dengan segala pesona dan auranya menjumpai sahabat lamanya.

Ku menoleh ke timur, disana kulihat rembulan menyapa bintang-bintang yang mulai terjaga dari tidur dan mimpinya. Bintangpun berbalik menyapa rembulan dengan kerlipan cahayanya yang begitu menggoda. Begitu damai, begitu bahagia. Sama seperti perasaanku saat ini yang mungkin sedang mekar dan berbunga.

Segala yang kulihat tadi terlihat begitu indah, seindah mimpi -mimpi para pemuja cinta. Seperti jua diriku yang slalu memimpikanmu, sayang.

Malam semakin kelam dan rembulan semakin mengerlam , ragaku mulai merasa kedinginan. Kehilangan hangatnya kasih sayang mentari yang tak pernah bosan memancarkan cahayanya dan menebar pesona dengan bibir tipisnya yang selalu tersenyum manis memandangi dunia dan langit di atasnya. Tapi lain halnya dengan hatiku yang masih merasa hangat oleh mimpi-mimpi, perasaan, dan cintaku kepadamu, sayangku.

Aku telah terpanah oleh panah cintamu yang engkau lepas dari busur hatimu dan kini panah itu menancap kuat dalam lubuk hatiku dan tak ingin lepas.

Kuraih sebuah pedang tajam lalu kutoreh sebuah goretan di dada dan kusingkap hati di dalamnya. Disana kulihat ada kamu sedang tersenyum melihatku. Betapa bahagianya aku.

Apa salah bila hatiku berkata tuk mencintaimu, sayangku. Sungguh hati ini telah terpaut pada keluguanmu, perasaanmu, kata-katamu, dan tingkahmu yang kadang malu-malu tapi kadang lain kau bagai tak hiraukan malu. Sungguh aku terpana melihatmu.

Kumohon sayang, jangan pergi dari hatiku walau untuk sekedar barang sebentar. Apalagi melepas penat dengan bertamasya ataupun menjenguk teman lama. Kumohon jangan, sayang. Aku takut kau hilang dalam perjalanan dan tak pernah kembali, dan hatiku pun kembali sepi.

Tulisan ini kubuat khusus untukmu, sayangku, manisku, cintaku, …matahariku.

Kini aku mengerti, pemuda itu, apa yang dialaminya, apa yang dirasakannya, dan apa yang dilakukannya. Aku juga mengerti, mengapa sejak saat itu matahari pergi tanpa pernah kembali menemui kami, sahabat-sahabatnya, dan juga kekasihnya.

 

Demikianlah tulisan tersebut saya tuntaskan. Jangan bingung. Seperti yang telah saya katakan, saya mengerjakannya dimasa yang penuh pergolakan dan idealisme, jadi wajar saja kalau anda yang membacanya saat ini merasa kesulitan untuk memahaminya. Saya sendiri butuh waktu beberapa lama untuk mengingat kembali situasi dan kondisi saat saya menulisnya. Jadi, sekali lagi saya katakan, jangan bingung, karena memang ini tidak pantas untuk anda pikirkan. Lagi pula tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, jadi saya tidak akan marah atau tersinggung bila kemudian anda mengatakan bahwa tulisan ini lebih pantas untuk masuk tong sampah. Mohon maaf untuk kata-kata saya.

Kemudian perlu juga saya sampaikan, bahwa sebenarnya ada beberapa tulisan lainnya yang saya kerjakan dimasa itu. Tetapi sebagian besarnya kini sudah hilang dan raib entah kemana rimbanya. Beruntung waktu itu saya menyimpan tulisan ini di media CD sehingga kini anda dan saya sendiri dapat membaca dan mengenang kembali masa-masa itu. Tulisan-tulisan lain yang tidak seberapa itu mungkin saja sudah terkubur bersama coretan-coretan dan sampah-sampah kertas lainnya yang menumpuk di loker sekolah. Ya, waktu itu loker saya – bersama seorang teman lainnya – memang yang paling berantakan. Tapi, walaupun begitu saya tidak menganggapnya sebagai suatu kesalahan. Justru saya memandangnya sebagai sebuah karya seni. Sesuatu yang dimasa itu dapat saya banggakan.

Nah, mungkin anda kini bertanya mengapa saat itu saya lebih banyak menulis dibanding sekarang ini. Jawabannya adalah karena saat itu saya masih memiliki energi untuk menulis. Saat itu saya masih memiliki antusiasme dan semangat yang tinggi, tapi kesemuanya itu terus menurun belakangan ini, Bahkan mungkin sebagiannya sudah tidak lagi bersisa saat ini. Setidaknya itulah yang dapat saya rasakan. Satu-satunya alasan yang membuat saya masih menulis saat ini adalah karena ikatan batin seorang dengan tulisan-tulisannya, tanggung jawab seorang penulis terhadap karyanya. Meskipun kini tulisan-tulisan itu sudah entah berada dimana sekarang, meskipun juga mungkin tulisan tersebut tak pantas untuk diceritakan, tapi tetap saja jiwa dari tulisan-tulisan itu tetap melekat di hati penulisnya, di hati penulis yang mencintai tulisan-tulisannya, walaupun mereka bukanlah siapa-siapa – sesuatu yang tak pernah menjadi penting.

Memang saya akui menulis adalah pekerjaan yang paling sulit. Namun begitu, seperti juga membaca, keduanya adalah pekerjaan-pekerjaan yang paling saya sukai. Bahkan kadang saya menjadi tak sabar menunggu untuk mengerjakannya. Tapi itu dulu. Seperti yang sudah saya katakan, saat diri ini masih dipenuhi energi. Walaupun begitu saya telah bertekad untuk dapat menemukan kembali energi-energi yang telah hilang ini. Salah satu usaha saya, ya dengan tulisan ini. Bukankah saat ini sudah ada media untuk menulis yang bernama blog? Ya, anda benar sekali. Bukankah dengan blog menulis dapat menjadi lebih gampang? Sepertinya tidak juga. Bukankah dengan blog tulisan-tulisan kita dapat dengan lebih mudah dinikmati oleh pembacanya? Masa sih, yang bener aja. Bukankah kamu ricky juga sudah memiliki blog sendiri? Di wordpress lagi? Ah, ngomong apa si

Mohon maaf, seperti biasanya, tulisan-tulisan yang terlalu panjang pada akhirnya akan dengan sendirinya menjadi ngaco. Jadi mungkin lebih baik kalau kita akhiri saja semua ini dengan damai. Peace!!! Sampai ketemu di tulisan-tulisan berikutnya, tentunya kalau saya masih ada dan kalau anda masih tertarik untuk membacanya. Akhirul kata, Thanks for watching. Ups, sorry. I mean,  Thanks for wasting your time with this unresponsible story.

signature

CNEJ – Computer & Electronics Journal (announcement)

Posted in pengumuman by Ricky Hariady on November 22, 2008

just want to announce you my new blog i created to meet my passion in electronics & computer stuff. So, please comin’ in, and leave your comment :) . Here is the link

Tagged with: , ,